• Banner 4
  • Banner 5
  • Banner 6
  • Banner 7
  • Banner 8

Assalamu'alaikum Wr. Wb | Selamat Datang di Website SD ISLAM TERPADU AT-TAQWIM | Lembaga Pendidikan Untuk Membangun Generasi Qur'ani | Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SD ISLAM TERPADU AT-TAQWIM

NPSN : 20227513

Jalan Ceuri Leuweung Kaleng Kp Sindangsari, Ds.Katapang, Kec.Katapang Kab. Bandung 40921


info@sditattaqwim.sch.id

TLP : 022-58999762


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimanakah Menurut Anda Tampilan Website Ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat

Statistik


Total Hits : 321895
Pengunjung : 129336
Hari ini : 51
Hits hari ini : 114
Member Online : 35
IP : 34.239.150.57
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

  • Pandu Rinata, S.Pd (Guru)
    2017-11-22 10:06:38

    update lagi yuk
  • Pandu Rinata, S.Pd (Guru)
    2017-11-22 10:06:37

    update lagi yuk
  • Nazhif Muhammad Rantisi (Siswa)
    2017-06-04 13:35:10

    LAPER>>.......
  • Najwa Ramadhani (Alumni)
    2016-10-26 19:43:16

    masih pada inget sama aku gak?
  • Yani Mulyani,S.Pd.I (Guru)
    2016-09-26 13:34:49

    alhamdulillah baru login
  • Najwa Ramadhani (Alumni)
    2016-08-20 20:41:44

    hello
  • Najwa Ramadhani (Alumni)
    2016-08-20 20:01:00

    haii
  • Najwa Ramadhani (Alumni)
    2016-08-20 20:00:50

    hallo
  • Najwa Ramadhani (Alumni)
    2016-08-20 20:00:13

    hai hai semua apa kabar?
  • Najwa Ramadhani (Alumni)
    2016-08-20 18:32:14

    tugas banyak banget ;(

PERANAN ORANG TUA DALAM MENERAPKAN DISIPLIN TERHADAP ANAK




Di sajikan oleh Devia Anggraini,SH ( Bagian Perpustakaan SDIT AT-Taqwim )

 

Ada orang tua yang tidak mengenal cara mendidik anak selain bahasa kekerasan. Sebaliknya ada pula orang tua yang terlalu lunak dalam mendidik anak, longgar dan memberi kebebasan. Sedikit sekali orang tua yang bisa memilih jalan pertengahan antara tipe tersebut. Jarang orang tua yang mampu bersikap seimbang antara kekerasan dan kelembutan.

 

Cara kekerasan yang digunakan sebagai satu-satunya metoda pendidikan, bisa menimbulkan tekanan dan pukulan psikologis dalam jiwa serta mental anak. Anak-anak yang biasa dididik dengan keras akan menjadi orang yang senantiasa takut, khawatir, gagap, tidak percaya diri, takut menghadapi kegagalan, selalu ragu-ragu dalam mengambil keputusan dan juga mudah marah. Gejala tersebut timbul akibat perasaan balas dendam dan pelampiasan emosi terhadap apa yang pernah dialaminya waktu kecil oleh orang tua tanpa difahamkan kesalahannya terlebih dahulu.

 

Tetapi di sisi lain, cara terlalu lunak dalam mendidik anak dan memberikan kebebasan yang tanpa batas secara berlebihan dengan memanjakan anak serta menuruti semua keinginannya akan menimbulkan keburukan dalam pembentukan pribadi anak. Anak yang selalu dimanjakan akan sulit untuk bisa mandiri.

 

Pandangan moderat berada diantara dua sikap dan cara pendidikan tersebut. Terkadang cara keras juga bisa dipakai sebagai salah satu pendekatan, tetapi bukan satu-satunya pilihan lain. Pertama mungkin dengan teguran, larangan, celaan, bentakan dan seterusnya. Tetapi orang tua jangan lupa setiap jenis hukuman yang diterapkan harus disertai dengan penjelasan kenapa dihukum. Anak harus difahamkan kesalahannya dan bahaya yang akan terjadi dari kesalahan itu. Pandangan moderat juga percaya bahwa memberi kebebasan adalah salah satu metode orang tua dalam mendidik anak. Namun tetap harus ada batasan-batasannya dengan prinsip-prinsip akhlak dan nilai-nilai luhur. Anak bebas mengutarakan pendapat asalkan tidak melukai perasaan orang lain. Anak bisa memilih kawan dari kalangan manapun asalkan berakhlak mulia dan berbudi pekerti. Disini orang tua memegang peranan utama untuk memberi bimbingan dan pengawasan kepada anak.

 

Maka dari itu kita perlu menerapkan disiplin kepada anak. Disiplin sangat penting bagi perkembangan anak. Dengan segala aturan, nilai, tatanan, kebiasaan, norma dan perilaku yang pantas, anak akan merasa lebih aman dan pasti karena mereka mengetahui perbuatan mana yang boleh dan mana yang tidak tidak boleh.

 

Disiplin merupakan salah satu aspek yang sangat penting. Disiplin harus ditanamkan sedini mungkin pada diri anak. Dan di era globalisasi ini disiplin diri sangat diperlukan agar anak tidak terbawa oleh arus perubahan. Tidak disiplin mendorong terjadinya percekcokan, pertengkaran, perkelahian dan hanyut dalam perubahan. Orang tua memiliki peranan penting untuk meletakkan dasar-dasar disipiln anak. Keluarga merupakan salah satu lembaga pengembang tugas dan tanggungjawab pendidikan pertama.

 

Anak berdisiplin memiliki keteraturan diri berdasarkan agama, nilai, budaya, moral, aturan pergaulan, pandangan hidup dan sikap hidup yang bermakna bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa dan negara. Orang tua dituntut menanamkan dan mengembangkan disiplin anak dalam hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, lingkungan alam, dan makluk hidup lainnya berdasarkan nilai, norma dan moral.

 

Disiplin tidak sama dengan hukuman. Tujuan penanaman disiplin pada hakekatnya adalah untuk membina belajar menguasai diri sendiri dan perbuatan setiap individu untuk bisa bertanggungjawab. Keluarga selayaknya harus dapat menjaga suasana rumah yang saling asih, saling asah, dan saling asuh satu sama lainnya. Dengan demikian perlu adanya posisi dan tanggungjawab dari orang tua. Karena orangtua berkewajiban meletakkan dasar-dasar disiplin diri kepada anak, dan bersama sekolah serta masyarakat dikembangkanlah disiplin diri.

 

Orang tua memiliki peranan dalam membantu anak mengembangkan disiplin diri secara realitas faktual dan esensial dalam kehidupan karena merupakan suatu keutuhan. Dengan demikian tanggungjawab dan kepercayaan orang tua yang dirasakan oleh anak akan menjadi dasar peniruan dan identifikasi diri untuk berperilaku.

 

Disiplin diri anak merupakan produk disiplin. Kepemilikan disiplin memerlukan proses belajar. Pada awal proses belajar perlu adanya peranan orang tua. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melatih, membiasakan diri berperilaku sesuai dengan nilai-nilai berdasarkan acuan moral. Jika anak telah terlatih dan terbiasa berperilaku sesuai dengan nilai-nilai moral maka perlu adanya kontrol orang tua untuk mengembangkannya.

 

Pada usia sekolah dasar, diperlukan bantuan dan kontrol yang lebih dari orang tua karena mereka tidak mengetahui bagaimana bermain dengan kelompok yang besar. Selain itu, mereka belum mampu tanpa pertolongan sehinga orang tua perlu menciptakan bermacam-macam struktur yang diperlukan untuk  mengorganisasi aktivitas-aktivitasnya.   Bagi sementara anak yang lebih matang, pengupayaannya lebih bersifat mengembangkan standar disiplin diri.

 

Masalah disiplin menjadi perhatian bagi setiap pembina, baik itu orang tua, guru, sampai dengan unsur pemerintah. Semua pembina mengharapkan agar setiap anak mempunyai disiplin. Disiplin pribadi dapat meningkatkan ketekunan serta memperbesar kemungkinan anak untuk berkreasi dan berprestasi. Untuk mencapai sikap disiplin berbagai cara telah banyak ditempuh. Manusia menggunakan ancaman, menakut-nakuti, membuat malu dan sebagainya. Cara tersebut bisa menimbulkan sikap tingkah laku disiplin, meskipun dapat digolongkan disiplin semu.

 

Disiplin semu merupakan disiplin yang disertai jiwa yang kurang sehat, disiplin yang disertai dengan perasaan kecil hati, rendah diri, cemas tak menentu, berdebar-debar, tak yakin akan dirinya dan sebagainya. Cara-cara membangkitkan disiplin dengan cara tersebut tidak jarang menimbulkanrasa kurang senang pada anak, seolah-olah anak memberontak atau melawan.

 

Ada berbagai pandangan di dalam permasalahan disiplin, perbedaan pandangan disiplin itu ada yang masih berpijak kepada pandangan lama dan ada juga yang berpijak kepada pandangan baru. Pandangan lama tentang disiplin berpendapat bahwa untuk mendisiplinkan anak orang tua berusaha mencegah perbuatan yang diinginkan. Orang tua denga pola lama menyatakan larangan pada saat kedua belah pihak dalam hal tersangkut orang tua dengan anak sedang marah. Kata-kata dari orang tua tidak jarang melukai hati, tidak sepadan dengan persoalan sebenarnya. Disiplin acap kali diajarkan kepada anak pada saat-saat yang salah, yaitu pada saat anak tidak dapat mendengarkan nasihat-nasihat, petunjuk-petunjuk karena anak sedang emosi. Sebaliknya pandangan baru mengenai disiplin adalah membantu anak dalam hal rasa perasaan maupun perbuatan. Orang tua memperbolehkan anak-anak untuk mengeluarkan isi hati dan perasaan mereka. Tetapi Orang tua tetap mencegah dan membatasi perbuatan anak yang tidak diinginkan atau mengarahkan dengan baik.

 

Larangan dan batasan yang diajukan oleh orang tua bukanlah semaunya saja, tetapi dengan tujuan mendidik, mengembangkan dan membentuk kepribadian anak. Dengan disipiln pola baru ini diharapkan inisiatif pribadi anak akan tumbuh dengan subur, suasana disiplin yang dibina dengan efektif.

 

Dengan pola disiplin baru dapat menyadarkan anak bahwa dengan bebasnya, anak harus mengubah dan mengendalikan segi-segi yang tidak baik dari tingkah lakunya. Dengan demikian disiplin yang disodorkan dan dibebankan oleh orang tua, lambat laun akan menjadi disiplin yang tertanam dalam lubuh hati anak.

 

Proses pendidikan kepada anak-anak menuntut orang tua tetap menegakkan sikapnya dengan tenang dan ramah, tetapi tegas. Dalam menanggapi ketidakdisiplinan atau ketidakpatuhan anak, sebaiknya orang tua jangan banyak bicara dan jangan pula menghujani anak dengan berbagai argumentasi tentang layak tidaknya larangan, sebab hal ini akan menimbulkan bentrokan atau perang total antara anak dengan orang tua.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas